Sabtu, Mei 31, 2008

Diary Mama Bulan May

Posted by LoveLy KhaLisa at 22.54 0 comments

21 May 2008
Tragedi Caterpillar

Khalisa susah sebulan terakhir ini punya teman main..namanya si Caterpillar…boneka berbentuk Ulet Bulu yang bisa ngoceh kalo di pencet-pencet atau di tarik..kalo khalisa punya cara main tersendiri tentunya, kadang dengan jidat nya yang dibenturin, kadang dengan telapak tangan dia pukul-pukul. Dengan sikut atau dengan kaki terdepak atau dengan badanya sendiri si Caterpillar ketindihan hihi.. yang penting si caterpillar itu tidak berhenti ngoceh.

Tadi siang rupanya terjadi hal yang bikin mama Panik,,tiba-tiba aja ada bentol bentol besaaar meraaah dan banyaaak, di muka, seluruh permukaan perut dan dada, leher, punggung, tengkuk, kaki dari paha, betis sampai kaki bawah yaa bisa di bilang seluruh badannya..aduuuuh mama paniknya bukan main, sementara dia masih belum merasa terusik dengan bentol-bentol yang sudah mulai berkembang biak tambah banyak dan melebar dalam hitungan menit saja…masih asik menepuk-nepuk Caterpillar,sementara mama sibuk mempersiapakan barang bawaan ke rumah sakit, nelp papa suruh pulang dl;p sama nelpon medical.

Wahhh dari gejalanya ga mungkin alergi dari makanan, ini seperti di sengat ulet bulu…tapi ulet bulu dari mana, ga mungkin si caterpillar besar itu yang nyengat..dia kan made in plastik..

Tapi sepertinya kecurigaan sementara mengacu ke sana..yahhh si caterpillar beneran…mmmmh akhirnya mama menduga-duga dari hasil menganalisis kronologis kejadian sebelumnya…(ciyeee kaya apaan aja) tadi waktu istirahat papa alyssa pulang…trus dia menggendong..dari ceritanya papa habis dari field…nnnnahh mungkin di field itu ada ulet bulu ato sejenis apalah terbang berhamburan namaya juga di jungle trus nempel di baju ato celana..trus gendong alyss.

Makanya si bentol-bentol itu berkembang subur beberapa menit setelah di gendong papanya…sooo karena bentol-bentol dah makin lebat dan melebar mama bawa ke UGD, mudah-mudahan bisa, karena dia sepeti nya udah ga tahan sama bentol-bento nya yang mulai menggatal..trus kasiannya dia kan ga bisa menggaruk..hiks.

Sebelumnya takutnya itu cacar air, tapi ga mungkin secepat itu menyebar.akhirnya docter kasih obat caladin lotion…semua tubuh nya tanpa tersisa di balur,, cukup tebal.alhamdulilla setelah itu dia rada anteng dan bentol nya mengempes…fuuuhhh lega




22 May 08
Meet the friend

Khalisa main ke rumah Kei...akhirnya bisa main bareng juga,, y
Wah..Kei dah bisa duduk tuh…alyss Cuma melihat sirikk…ugghhh aku harus bisa duduk juga.

25 May 08
Ini Elmo yang bawel dan lucu yang selalu menghibur khalisa kalo lagi sendirian.. Tante Kiki dan Om Andika yang membawakanya tadi Sore untuk akuu. Trimakasiy Tante Ki n Om Dika…

27 May 2008
Ehhh hari ini mama liat khalisa bisa angkat badan pake kedua tangan, kaya orang mau push up..tp belom tahan lama…nge gubrak lagi nge gubrak lagi..
Sama mulai bisa ngomong da ddda daaa….daaaa dddaaaa…berulang-ulang..addaaa aaddaaa…

29 May
First imunisasi in Duri niy…mama sempet bingung dimana public healt itu yach..
Kali imi imunisasi Hep 3..pake injerikk mungkin itu tulisannya.sebelumnya dia selalu pake yang yufax..tapi kata doc anak disini ,,,it s okey

30 May 08
Suprisee…Andraa…temanku yang ganteng itu..tadi main ke Wisma ku luo kikikikkk suenang nya…Iya Andra kamu dulu seharusnya jadi penghuni Wisma Puncak seperti aku..Andra bawa in aku teman baru, boneka baby Simba,,thanktiuu tayyang..
Kalo mama siy asyik ngobrol sama tante Rosie and tante Lily..

Berenang Bikin IQ Tinggi !!!

Posted by LoveLy KhaLisa at 00.27 0 comments
Jadi, Bu-Pak, ajaklah si kecil berenang. Sekalipun masih bayi, tak masalah. Bahkan, bayi baru lahir pun tak akan tenggelam kalau dicemplungin ke dalam air.

Hasil penelitian di Melbourne, Australia, menunjukkan, secara statistis IQ anak-anak yang diajarkan berenang sejak bayi lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tak diajarkan berenang atau diajarkan berenang setelah usia 5 tahun. Anak-anak tersebut diukur IQ-nya ketika mereka berusia 10 tahun. Tak hanya itu, pertumbuhan fisik, emosional dan sosialnya pun lebih baik.

Penelitian lain menunjukkan, bayi lebih gampang diajarkan berenang ketimbang orang dewasa, karena bayi tak pernah memiliki faktor X semisal bahaya. Bukankah bayi belum mengerti bahaya? Lagi pula, bayi sangat menyukai air sehingga ia pun akan suka diajak berenang. Nah, hal ini membuatnya jadi lebih mudah belajar berenang.

Selain itu, bayi baru lahir hingga usia 3 bulan bisa langsung nyemplung ke dalam air tanpa takut tenggelam, karena pada usia tersebut, ia memiliki refleks melangkah yang banyak kegunaannya untuk berenang. "Refleks melangkah merupakan salah satu refleks yang menyertai bayi seperti halnya refleks menggenggam dan refleks berjalan," jelas Dr. Karel Staa dari RS Pondok Indah, yang juga mantan perenang pemegang rekor 200 meter gaya dada pada 1960-1962.

Jadi, bila kita meletakkan bayi usia di bawah 3 bulan di dalam air, secara otomatis ia akan menggerak-gerakkan kakinya menyerupai paddle dog sehingga tak tenggelam. Bisa dikatakan, pada usia di bawah 3 bulan bayi sudah bisa berenang dengan gaya primitif. Bukan berarti setelah usia tersebut, bayi tak bisa berenang lagi, lo. Kendati refleksnya sudah menghilang, ia tetap bisa melakukan gerakan berenang walaupun tak terorganisir atau acak-acakan. Soalnya, dengan ada gaya gravitasi, ia merasa ditekan dari bawah air sehingga ia bisa mengambang. Ia pun jadi senang.

Apalagi sejak di perut ibu, bayi sebenarnya juga sudah berenang dalam air ketuban selama 9 bulan. Setelah lahir, kemampuannya berenang tinggal ditingkatkan saja. Bahkan, saking populernya berenang ini, di luar negeri sampai ada proses melahirkan yang dilakukan di dalam air, lo. "Secara medis, hal ini tak akan menimbulkan masalah karena merupakan proses alami." Jadi, tak ada alasan lagi untuk ragu-ragu mengajak si kecil berenang, ya, Bu-Pak.

HARUS AMAN

Yang penting diperhatikan, ketika berenang bayi harus merasa aman dan memang harus ada pengaman. Jadi, orang tua harus mendampinginya. Ini syarat mutlak, lo. "Jika orang tua sama-sama masuk ke dalam air dan sama-sama berenang dengan bayi, maka selain merasa aman, bayi pun bisa merasakan ada respon dari orang tua," tutur Karel.

Disamping, dengan orang tua mendampingi juga bisa bermain dengan bayi sehingga ada interaksi antar manusia. "Ini merupakan salah satu keunggulan berenang." Coba bandingkan kala bayi baru belajar duduk atau berjalan, apakah orang tua akan mendampingi dan melakukan gerakan yang sama terus menerus dengan anak? Kan, enggak. "Nah, berenang lain. Mereka sama-sama masuk air, sama-sama berenang sehingga rasa enjoy-nya lebih. Ini akan berguna untuk perkembangan psikologis anak." Itulah mengapa, kedua orang tua sebaiknya ikut bersama bermain di dalam air.

Tentunya, berenang juga berguna untuk pertumbuhan. "Motoriknya berkembang lebih pesat ketimbang ia hanya bermain di lantai." Bukankah saat berenang, semua otot bekerja? Nah, kalau di lantai, hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja. Apalagi jika ibu memberikan baby walker sehingga bayi jadi terbiasa berjalan dengan alat itu. Akhirnya, gerakan-gerakan ototnya jadi terbatas karena hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja.

PERHATIKAN KEBERSIHAN AIR

Nah, kini Ibu-Bapak semakin mantap, kan, mengajak si kecil berenang? Tapi berenangnya di rumah saja, ya, kalau usia si kecil masih di bawah 6 bulan, agar bisa mengontrol kebersihan dan suhu airnya. Jangan lupa, di usia ini enzim pencernaan bayi belum matang. Jadi, kalau ia secara tak sengaja menelan air yang tak bersih kala berenang, bisa mengakibatkan mencret, muntah, dan sebagainya.

Bukan berarti di rumah harus ada kolam renang, lo. Toh, banyak benda yang bisa dijadikan sebagai pengganti kolam renang seperti bak mandi, ember besar, bathtub, dan lainnya. Nah, biasakan bayi bermain di situ. "Sebenarnya, ketika bayi tengah mandi atau bermain air merupakan salah satu cara mengenali atau menghayati air pada anak," tutur Karel.

Setelah bayi berusia 6 bulan ke atas barulah bawa ia ke kolam renang terbuka atau umum. "Tapi harus pilih, ya. Mungkin di Indonesia masih sulit karena kita, kan, enggak punya kolam berenang khusus bayi. Bahkan kebanyakan kolam renang di Jakarta, air yang dipakai itu-itu saja, muter saja di situ. Diputarnya pakai mesin lalu ditambahkan kaporit dan daun-daun atau kotorannya diangkat; sebulan sekali baru diganti." Hal ini dikarenakan sulitnya sumber air di Jakarta. Lain dengan di kota pegunungan seperti Bogor dan Cibodas, "mereka memiliki kolam renang yang airnya mengalir".

Jadi, bila mau membawa bayi berenang di kolam renang umum, pilih waktu yang tepat, yaitu ketika kolam renang masih dalam keadaan bersih; biasanya di waktu pagi. "Suhunya juga harus disesuaikan, sebaiknya jangan lebih dari 31 atau 32 derajat celcius." Khusus untuk bayi usia satu bulan pertama, suhunya 34-35 derajat celcius.

Kebersihan lain yang harus diperhatikan ialah kaporitnya, "jangan terlalu jenuh, karena kaporit bisa mengakibatkan iritasi kulit, mata, dan lainnya." Ukuran kaporit yang ditetapkan untuk anak adalah 6-8 ppm. Hati-hati, lo, Bu-Pak, jika bayi sudah merasa trauma karena matanya perih, misal, selanjutnya akan jadi kendala.

UNTUK REKREASI

Yang perlu diingat, jangan sampai orang tua mengajak bayi berenang untuk mengejar prestasi karena tujuan utamanya adalah rekreasi. Beberapa asosiasi kedokteran anak di luar negeri malah mengatakan, berenang pada anak usia di bawah 4 tahun jangan dijadikan tujuan untuk mengejar prestasi. Di atas usia itu barulah orang tua bisa mengajarkan gaya-gaya berenang yang ditargetkan untuk prestasi.

Dalam bahasa lain, bayi berenang hanya untuk fun. "Mulai usia setahun bolehlah diarahkan pada prestasi, tapi tidak dengan cara ditekan," ujar Karel. Misal, setiap hari harus berenang 50 meter bolak-balik. Soalnya, di usia tersebut ia baru bisa mengikuti gerakan-gerakan renang yang dilakukan orang tuanya. Sama halnya dengan bayi usia setahun yang suka marah-marah karena melihat orang tuanya yang suka marah-marah, begitu pula berenang. "Kalau orang tua suka berenang dengan gaya yang cukup baik maka ia pun akan mengikuti."

Jadi, ajak si kecil berenang untuk kesehatannya lebih dulu, ya, Bu-Pak. Soal gaya renang akan mengikuti secara otomatis bila ia sudah menyukainya. Jangan lupa, ketika mendampinginya, Ibu-Bapak juga harus fun, lo, bukan lantaran terpaksa.

Dikutip dari: Milis Nakita

Selasa, Mei 27, 2008

wowww dia berbicara

Posted by LoveLy KhaLisa at 05.35 0 comments
27 May 2008

Ehhh hari ini mama liat khalisa bisa angkat badan pake kedua tangan, kaya orang mau push up..tp belom tahan lama…nge gubrak lagi nge gubrak lagi..
Sama mulai bisa ngomong da ddda daaa….daaaa dddaaaa…berulang-ulang..addaaa aaddaaa…
**************************************************************************************

28 May 2008

Dah Mau Expert niy...
**************************************************************************************

29 May 2008

First imunisasi in Duri niy,tempatnya di Public Health.
Kali imi imunisasi Hepatitis B yang ke- 3..pake injerikk (mungkin itu tulisannya). sebelumnya Alyss selalu pake yang yufax..tapi kata docter anak disini ,,,it s okey.
**************************************************************************************


30 May 2008

Suprisee…Andraa…temanku yang ganteng itu..tadi main ke Wisma ku luo kikikikkk suenang nya…Iya Andra kamu dulu seharusnya jadi penghuni Wisma Puncak seperti aku..Andra bawa in aku teman baru, boneka baby Simba,,thanktiuu tayyang..
Kalo mama siy asyik ngobrol sama tante Rosie and tante Lily..

Senin, Mei 26, 2008

Khalisa n Friends

Posted by LoveLy KhaLisa at 18.15 0 comments






Meet the friend
22 May 08

Khalisa main ke rumah Kei...akhirnya bisa main bareng juga,, yang sebelumnya paling mommy mommy aja yang cuap cuap di telp sharing dari semenjak hamil 0 bulan…ya..karena usia dari hamil berdekatan sampe delivery, jadi problem and keluhan hampir sama dan susul menyusul..
Wah..Kei dah bisa duduk tuh…alyss Cuma melihat sirikk…ugghhh aku harus bisa duduk juga.


**************************************************************************************



25 May 08

Ini Elmo yang bawel dan lucu yang selalu menghibur khalisa kalo lagi sendirian.. Tante Kiki dan Om Andika yang membawakanya tadi Sore untuk akuu. Trimakasiy Tante Ki n Om Dika…Kapan2 main ke rumah ku yach

Minggu, Mei 18, 2008

Tidur Berkualitas Membuat Anak Cerdas

Posted by LoveLy KhaLisa at 00.29 0 comments
WAKTU tidur mencukupi menjadi salah satu aspek penentu tumbuh kembang optimal anak. Amati karakter dan pola tidur si kecil. Yakinkah kualitasnya tak bermasalah?

Bagi bayi, tidur sama pentingnya dengan asupan gizi makanan dan minuman. Saat si kecil tertidur, aktivitas regenerasi sel-sel tubuh dan tumbuh kembang otak mencapai puncaknya. Demikian juga bagian otot, kulit, dan tulang. Pada waktu tidur, tubuh memproduksi hormon pertumbuhan tiga kali lebih banyak dibanding ketika dia terbangun.

Menurut Konsultan Tumbuh Kembang Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang DKI Jakarta, Dr Rini Sekartini SpA(K), tidur merupakan kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang bayi dan batita (bayi di bawah tiga tahun).

Tidur yang berkualitas juga dapat memperkuat daya tahan tubuh, kemampuan belajar dan daya ingat, perkembangan fungsi hormon, metabolisme tubuh, serta sistem jantung dan pembuluh darah.

"Kenyataannya, belum banyak orangtua yang menyadari bahwa tidur berkualitas merupakan hal yang sangat penting bagi bayi atau batita," ungkap dokter yang juga menjadi anggota Asia Pacific Paediatric Sleep Alliance(APPSA).

Penelitian yang melibatkan para orangtua di lima kota besar di Indonesia yaitu di Jakarta, Bandung, Medan, Palembang, Batam mengungkapkan, sekitar 72,2 persen orangtua menganggap masalah tidur pada bayi atau batita bukanlah masalah, atau hanya merupakan masalah sepele.

Padahal, penelitian yang sama juga mengungkapkan bahwa 44 persen bayi dan batita di Indonesia mengalami gangguan tidur. Seperti sering terbangun di malam hari dan kurang tidur. Sementara itu, di Amerika sebanyak 84 persen anak usia 1-3 tahun dilaporkan mempunyai masalah tidur yang persisten.

Masalah tidur bisa dalam hal kuantitas, yaitu jumlah lamanya tidur kurang dari normal. Atau, hal-hal yang menyangkutkualitastidurseperti sulit memulai tidur, sering terbangun di malam hari sebanyak 2-3 kali, bila terbangun susah tertidur kembali, ataupun rewel, sering menangis, menjerit, ketakutan, menggesekkan gigi, dan ngorok.

Bayi usia 2-3 bulan biasanya pola tidurnya tidak teratur. Rini menuturkan, idealnya bayi usia 9 bulan dapat tidur sepanjang malam, dan jika terbangun di malam hari, seharusnya dapat tertidur kembali dengan sendirinya. "Ketika bayi terbangun jangan langsung diberi susu atau makan. Tunggu sampai ia duduk, baru diberikan," sarannya.

Hal senada diungkapkan, Dr Stanley Coren dalam bukunya Sleep Thieves. Dia menjelaskan bahwa pada usia anak 9-18 bulan seharusnya orangtua membiasakan anak untuk tidur sepanjang malam. "Jangan segera menggendong mereka agar cepat kembali tidur," tegas Coren.

Bagi orangtua hendaknya waspada karena jika kuantitas dan kualitas tidur tidak optimal, bisa mengakibatkan masalah serius. Tak hanya akan mengantuk di siang hari, anak jadi rentan infeksi dan obesitas. Dari aspek kognitif, masalah tidur bisa membuat anak cenderung lamban, kurang kreativitas dan perhatian serta terganggu konsentrasi. "Keluarga yang dekat dengan si anak pun akhirnya ikut dibuat repot dan stres," jelas Rini.

Pengalaman itu dirasakan model dan presenter, Arzeti Bilbina. Ketika anak kurang tidur cenderung timbul ulah yang kurang menyenangkan. "Dia jadi mudah marah-marah dan mukulin siapa saja didekatnya, tapi kalau tidurnya pulas, besoknya bermain dengan enak," ujarnya.

Dikutip dari: www.okezone.com

Selasa, Mei 13, 2008

Gunting Kuku, Yuk!

Posted by LoveLy KhaLisa at 07.15 0 comments
Banyak bayi yang lahir dengan kuku cukup panjang. Sekalipun nampak lemas dan hanya setebal kertas, kuku itu bisa menggores wajahnya, lho .

Menggunting kuku bayi memerlukan strategi khusus dan super hati-hati. Kalau tidak, salah-salah bukan hanya kuku, tapi kulitnya juga ikut tergores gunting!

Berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan.

- Sebelum menggunting kuku
- Siapkan dulu berbagai peralatan yang dibutuhkan, yaitu:
- Gunting kuku atau pemotong kuku berupa penjepit
- Kapas
- Air matang
- Alkohol 70%
- Sebelum digunakan, bersihkan alat potong kuku dengan kapas yang sudah diberi alkohol.
- Saat menggunting kuku

- Gunting kuku setelah si kecil mandi, sebab kukunya jadi agak lunak. Selain itu, setelah mandi biasanya ia terlelap, sehingga memudahkan dalam menggunting. Selain itu, pada saat tidur, telapak tangan bayi akan terbuka. Biasanya, jari-jemari bayi baru lahir menggenggam terus. Dalam posisi seperti ini, Anda jadi susah menggunting kukunya.

- Jika jari-jarinya masih juga menggenggam, secara perlahan buka genggamannya. Caranya, letakkan ibu jari Anda di bagian luar telapak tangan si kecil, sementara jari Anda yang lain masuk ke bagian dalam telapak tangannya.

- Bersihkan kotoran yang ada di balik kuku bayi dengan kapas yang sudah dicelup air matang. Jangan sekali-kali membersihkannya dengan ujung gunting kuku.

- Perhatian!

- Kuku bayi sangat cepat tumbuhnya. Jadinya, ketika Anda sedang membersihkan tubuh si kecil, jangan lupa periksa juga kukunya.

- Jangan terlalu sering memotong kuku bayi, karena akan mempermudah terjadinya kerusakan pada kulit di sekitar kuku. Gunting kukunya kalau panjangnya kira-kira 1½ -2 mm.

- Jika Anda takut memotong kuku si kecil, minta bantuan orang lain. Selain bisa melukainya, kuku yang dibiarkan tumbuh panjang bisa jadi sarang kotoran dan kuman penyakit. Namun demikian, sebaiknya Anda tetap belajar memotong kuku si kecil.

- Jangan panik bila jari mungilnya sedikit berdarah. Segera bersihkan luka dengan kapas yang sudah dibasahi alkohol, kemudian diolesi dengan obat antiseptik.

Dikutip dari: http://www.ayahbunda-online.com

Minggu, April 13, 2008

Kita Main Yuk .... !

Posted by LoveLy KhaLisa at 01.07 0 comments
Tak hanya rasa gembira yang dirasakan si kecil dalam permainan interaktif . Tapi ia juga bisa belajar banyak tentang dirinya, Anda dan lingkungan sekitarnya.

Memang, tak ada yang lebih menyenangkan daripada bermain dengan buah hati tercinta. Apalagi, kegiatan ini bisa pula memperkuat rasa cinta dan kedekatan dengan Anda, ‘guru’ pertamanya. Tapi perlu diingat bahwa ketertarikan dan rentang perhatian ‘murid kecil’ Anda ini berbeda-beda atau terhadap suatu permainan . Jadi, pemberian stimulasi lewat permainan ini sebaiknya tidak berlebihan.

Marsha Gerdes, Ph.D , psikolog yang juga dokter anak di The Children’s Hospital of Philadelphia, Amerika Serikat, menyarankan agar orang tua cermat memperhatikan ekspresi atau sikap tubuh sang anak saat bermain. Jadi, segeralah berhenti bermain dan beristirahat begitu si kecil memalingkan muka, mengalihkan pandangan matanya, atau rewel.

Selain itu, pilihan permainan dapat dilakukan berdasarkan perkembangan keterampilan, sesuai umurnya. Keterampilan apa saja?

Tingkatkan keterampilan motorik kasarnya

Permainan berikut dapat meningkatkan kemampuan si kecil dalam menggunakan otot-otot besar pada tangan, kaki, dan tubuh.

* Bayi baru lahir - 3 bulan: Main kaki dan tangan

Cara: Telentang kan bayi di atas alas yang rata. Sambil menyanyikan lagu favoritnya, tekuk kakinya perlahan-lahan, lalu luruskan kembali. Lakukan beberapa kali. Setelah itu, pegang tangannya, dan gerakkan turun naik perlahan-lahan. Ulangi permainan dalam posisi tidur menyamping atau tengkurap.

Manfaat: Membuat bayi sadar akan tubuhnya. Pada awal kehidupannya, bayi tidak dapat membedakan antara tubuhnya dan tubuh Anda. Seiring dengan irama lagu yang Anda nyanyikan, Anda juga dapat membantunya melakukan koordinasi gerakan-gerakan yang sederhana.

* Usia 4-7 bulan: Ayo, ambil bolanya!

Cara: Letakkan bola plastik kecil di atas gelas kertas dengan posisi di luar jangkauan si kecil. Lalu, tunjukkan bagaimana cara mengambil dan menjatuhkannya. Bila perlu, geser bola hingga dekat dengannya.

Manfaat: Membantunya mengembangkan kemampuan koordinasi tangan, mata dan kakinya. Selain itu, aksi meraih sesuatu akan memberi pemahaman pada si kecil kalau ia dapat menggerakkan tubuhnya maju. Dengan begini, ia akan ‘bersemangat” untuk merangkak kelak.

* Usia 8-12 bulan: Mana mainanku?

Cara: Bayi-bayi usia ini biasanya sudah mulai merangkak. Jadi, mengapa Anda tidak bergabung saja dengannya? Sebelumnya, tunjukkan padanya Anda menyembunyikan mainan berbunyi di bawah selembar selimut yang dihamparkan di depannya. Lalu, katakan, “Yuk, cari sama-sama!” Merangkaklah di belakangnya (seolah-olah sedang mengejarnya), dan bantu dia menemukan mainannya.

Manfaat: Selain melatih koordinasi dan kekuatan otot-ototnya, permainan ini juga melatih daya ingatnya.

Meningkatkan keterampilan motorik halus

Dengan beberapa permainan ini, bayi dapat melatih keterampilan dan koordinasi otot-otot halusnya. Misalnya, otot-otot jari tangan, jari kaki, pergelangan tangan, bibir, dan lidah.

* 0 – 3 bulan: Hai, kamu menangkapku

Cara: Gelitik telapak tangan si kecil dengan jari tangan Anda. Saat dia menangkap jari tangan Anda, goyangkan saja sambil berkata, “Kamu telah menangkapku!” Biar seru, gerakkan jari tangan Anda ‘keluar masuk’ genggaman tangannya.

Manfaat: Selain melatih otot-ototnya, upaya si kecil untuk menggenggam jari tangan Anda memberikan keasyikan tersendiri.

* Usia 4-7 bulan: Tekan pipiku

Cara: Pangku si kecil menghadap Anda (bila perlu, sangga punggungnya). Kembungkan pipi Anda, lalu kempiskan dengan jari telunjuk Anda sambil mengatakan, “Puh.” Ulangi gerakan agar si kecil meniru hal yang sama dengan pipi Anda. Tunjukkan pula padanya kalau ia menekan hidung Anda, Anda akan bersuara, “Beep-beep.” Jika ia menarik kuping Anda, Anda akan menjulurkan lidah.

Manfaat: Permainan ini akan mengembangkan koordinasi tangan dan matanya. Selain itu, ia juga belajar kalau tangannya bisa jadi ‘alat’ untuk menyebabkan terjadinya sesuatu.

* Usia 8-12 bulan: Kotak ajaib

Cara: Masukkan beberapa benda kecil, seperti bola, bel, atau boneka, ke dalam kotak. Berikan kotak pada bayi Anda, lalu biarkan ia memeriksa isinya dan mengosongkannya. Selanjutnya, lihat apakah ia dapat menaruh kembali semua benda ke dalamnya.

Manfaat: Tanpa disadari, si kecil belajar untuk membunyikan bel dengan menggerakkan pergelangan tangannya, atau menjatuhkan bola saat membuka tangannya. Pada usia 9 bulan, Anda dapat melatihnya mengambil benda kecil dengan telunjuk dan ibu jarinya. Namun, jangan berikan benda atau mainan yang diameternya kurang dari 3 cm dan panjangnya kurang dari 2 cm.

Mendorong keterampilan berbahasa

Permainan ini akan membantu mengembangkan kemampuan bayi untuk berbagi informasi, mengekspresikan emosi, serta memperoleh pengertian dari orang dan lingkungan di sekitarnya.

* Bayi baru lahir - 3 bulan: Tanya jawab

Cara: Lakukan kontak mata dengan bayi Anda, lalu bertanyalah, “Di mana dagumu?” Tirulah suara menelan, lalu berseru, “Ini dia dagumu!” sambil menggelitik bawah dagunya. Ulangi untuk anggota tubuh yang lain. Jangan lupa. gunakan suara-suara dan ekspresi yang berlainan untuk masing-masing anggota tubuh.

Manfaat: Semakin banyak variasi, semakin mengasyikkan bagi si kecil. Walau belum mengerti apa yang Anda ucapkan, ia belajar nada suara dan struktur bahasa berupa tanya jawab dari suatu percakapan.

* Usia 4-7 bulan: Bermain musik

Cara: Pada usia 6 bulan, si kecil mulai dapat menyisipkan huruf-huruf konsonan pada ucapannya. Tirulah ucapannya, misalnya ba ba ba, da da da, atau ma ma ma, saat Anda bermain musik bersamanya. Letakkan sebuah drum, ember plastik, atau kaleng bertutup di atas lantai di hadapan Anda berdua. Bila perlu, beri si kecil alat bantu untuk memukul, seperti sendok kayu. Kalau si kecil tidak mau memukul apapun, ajak bertepuk tangan sambil ucapkan, “Ba ba ba.”

Manfaat: Dapat membantu mengembangkan keterampilan mendengarnya. Ia juga akan belajar menikmati irama dengan tempo yang berbeda-beda.

* Usia 8-12 bulan: Suara binatang

Cara: Letakkan 3 buah boneka binatang, misalnya anjing, bebek dan kucing, di atas lantai di hadapan Anda berdua. Nyanyikan lagu tentang binatang. Saat Anda menyebut nama seekor binatang, buatlah boneka binatang itu seolah-olah menari sambil Anda tiru suaranya. Lalu, tanyakan pada si kecil, “Yang mana bebek? Bagaimana suaranya?” Jangan cemas jika si kecil diam saja. Tunjukkan padanya dan perdengarkan kembali suaranya.

Manfaat: Kombinasi penglihatan dan pendengaran ini akan membuat bayi tertarik belajar berkata-kata. Secara bertahap, dia akan dapat merangkai kata-katanya sendiri.

Dikutip dari: http://www.ayahbunda-online.com/

Senin, Maret 31, 2008

Stimulasi Terus Menerus Pada Balita Dapat Ciptakan Anak Cerdas

Posted by LoveLy KhaLisa at 06.01 0 comments
Pemberian stimulasi yang teratur dan terus-menerus akan menciptakan anak yang cerdas, bertumbuh kembang dengan optimal, mandiri, serta memiliki emosi yang stabil, dan mudah beradaptasi.

Ahli spesialis anak dr. Caroline Mulawi, Sp.A. pada acara "road show" produk popok dan "toiletries" bayi Huggies mengatakan di Jakarta, Minggu, perasaan kasih sayang akan juga makin memperkuat ikatan emosi ("bonding") ibu dan bayi, bahkan sampai anak tumbuh dewasa.

"Melalui stimulasi tersebut, anak dapat mencapai perkembangan optimal pada penglihatan, pendengaran, perkembangan bahasa, sosial, kognitif, gerakan kasar, halus, keseimbangan, koordinasi, dan kemandirian," kata Caroline, yang berpraktek di RS Omni Medical Center Jakarta, dan RS. Omni International Alam Sutera, Tangerang.

Sementara itu, Managing Director Kimberly-Lever Indonesia, Bong R. Kamus, Jr, mengatakan pihaknya -- sebagai produsen produk Huggies -- sangat mendukung program sosialisasi pengikatan emosi ibu dan bayi ("mother-infant bonding") serta stimulasi pada anak usia balita yang dipercaya dapat memperkuat perkembangan fisik, mental, dan sosial anak.

Dikatakannya dalam "road show" Huggies tersebut pihaknya juga telah bekerja sama dengan lembaga pelatihan senam otak untuk balita "Brain Gym" dalam upaya menunjang program sosialisasi peningkatan kecerdasan anak.

Program Stimulasi

Caroline mengatakan stimulasi telah dapat diberikan pada bayi sejak masih dalam kandungan, pada usia kehamilan enam minggu dengan cara mengajak bicara pada bayi yang masih dalam kandungan serta memperdengarkan musik lembut.

"Hasil penelitian membuktikan nantinya bayi akan memiliki tingkat kecerdasan atau IQ ("intelligence quotient") yang lebih tinggi 14 poin dibanding anak-anak usia sebaya serta memiliki kemampuan bicara lebih cepat," kata dia.

Setelah bayi lahir, ibu atau pengganti ibu, seperti halnya "baby sitter", dapat terus melakukan stimulasi. Untuk bayi usia 0-3 bulan, stimulasi yang diberikan antara lain dengan cara menggantungkan mainan yang bisa bergerak, mengajak bicara, menyanyi, memutarkan rekaman musik, serta melatih mengangkat kepala, dada, memiringkan badan, serta tengkurap.

Pada usia 3-6 bulan, stimulasi yang diberikan antara lain dengan memperlihatkan cermin, melatih tengkurap, berguling, memberikan mainan yang dapat dipegang dan diraih. Pada usia 6-9 bulan, stimulasi tetap diberikan dengan melanjutkan stimulasi sebelumnya serta melatih bersalaman, bertepuk tangan, melambaikan tangan dan menunjuk ke benda-benda yang jauh.

Pada anak usia 9-12 bulan, mereka dapat dilatih menyebutkan nama-nama orang di dalam keluarga, menggelindingkan bola, serta mulai berlatih berdiri dan berjalan berpegangan, sementara pada usia 12-18 bulan stimulasi dilanjutkan dengan melatih anak menyusun kubus, balok, bermain menggunakan boneka, sendok, belajar melepas celana, baju, serta mulai berjalan tanpa pegangan.

Stimulasi dilanjutkan pada usia anak 18-24 bulan dengan mengajarkan mereka menyebut nama gambar, bagian tubuh anak, binatang, serta berlatih mencuci tangan, sikat gigi, serta bermain melempar bola dan melompat.

Pada anak usia 2-3 tahun stimulasi dilanjutkan dengan mengajarkan mereka mengenai kegunaan benda sehari-hari, memakai baju sendiri, menggambar garis lingkaran, serta berlatih berdiri dengan satu kaki. Sementara pada usia tiga tahun ke atas stimulasi diarahkan untuk perkembangan kesiapan sekolah anak, antara lain dengan memperkenalkan huruf dan angka serta berlatih berhitung sederhana.

Dikutip dari: Jakarta (ANTARA News)

Sabtu, Maret 22, 2008

First day to sleep on side

Posted by LoveLy KhaLisa at 00.40 0 comments

Jumat, Maret 21, 2008

In Love With You

Posted by LoveLy KhaLisa at 06.46 0 comments

Get this widget | Track details | eSnips Social DNA

Minggu, Maret 16, 2008

Tumbuh Kembang Bayi Secara Normal

Posted by LoveLy KhaLisa at 07.44 1 comments
Setelah mengetahui berbagai faktor yang berperan dalam tumbuh kembang seorang anak, maka kita juga perlu mengetahui beberapa ukuran yang berkenaan dengan tumbuh kembang yang normal. Dalam infografis berikut akan terlihat bagaimana pertumbuhan seorang anak mulai dari usia 0 sampai 5 tahun. Hal ini merupakan patokan bagi Anda untuk melihat apakah anak Anda normal atau mengalami gangguan.

Ukuran berat badan dan panjang badan berkaitan erat dengan nutrisi, artinya kalau berat badan kurang dari ukuran tersebut kemungkinan nutrisi anak Anda kurang dari cukup. Lingkar kepala berkaitan erat dengan volume otak, artinya kalau lingkaran kepala anak Anda dalam usia tertentu kurang dari nilai yang normal, kemungkinan volume otaknya kurang dari cukup. Sedangkan berbagai gerakan yang ada merupakan kombinasi dari kemampuan otak dan organ gerak yang bersangkutan.

Dr. Hartono Gunadi dari subbagian tumbuh kembang FKUI mengutarakan bahwa jika anak Anda mengalami perlambatan dalam parameter-parameter tersebut maka Anda dapat memberikan toleransi hingga dua minggu, sambil Anda memenuhi berbagai unsur yang Anda anggap kurang Anda berikan kepada anak Anda. Unsur tersebut diantaranya nutrisi, atau stimulan yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya.

Sebagai contoh dalam usia 5 bulan gerakan halus bayi Anda belum mampu untuk meraih atau menggapai sesuatu, maka Anda dapat memberikan stimulan yang lebih intensif, semisal dengan merangsang anak dengan memberikan mainan, sehingga dapat terangsang untuk meraih mainan tersebut.

Setelah Anda merasa cukup memberikan nutrisi dan stimulan yang memang diperlukan untuk anak, namun tumbuh kembang anak masih terganggu, ada beberapa kelainan yang mungkin terjadi. Bisa saja ada kelainan hormonal misalnya gangguan fungsi kelenjar gondok. Kelainan bawaan atau seperti Sindrom Down, atau terjadi gangguan fungsi neurologi pada anak Anda. Kalau demikian, lebih baik Anda membawa sang anak ke dokter jika memang perlambatan tumbuh kembangnya di luar batas toleransi.



1 bulan

Berat badan: 3,0 – 14,3 kg

Panjang badan: 49,8 - 54,6 cm

Lingkar kepala: 33 – 39 cm

Gerakan kasar: tangan dan kaki bergerak aktif

Gerakan halus: kepala menoleh ke samping kanan-kiri

Komunikasi/Berbicara: bereaksi terhadap bunyi lonceng

Sosial/Kemandirian: menatap wajah ibu/pengasuh



2 bulan

Berat badan: 3,6-5,2 kg

Panjang badan: 52,8-58,1 cm

Lingkar kepala: 35-41 cm

Gerakan kasar: mengangkat kepala ketika tengkurap

Gerakan halus: kepala menoleh ke samping kanan-kiri.

Komunikasi/Berbicara: bersuara.

Sosial/Kemandirian: tersenyum spontan



3 bulan

Berat badan: 4,2-6,0 kg

Panjang badan: 55,5-61,1 cm

Lingkar kepala: 37-43 cm

Gerakan kasar: kepala tegak ketika didudukkan

Gerakan halus: memegang mainan

Komunikasi/Berbicara: tertawa/berteriak tertawa/berteriak

Sosial/Kemandirian: memandang tangannya



4 bulan

Berat badan: 4,7-6,7 kg

Panjang badan: 57,8-63,7 cm

Lingkar kepala: 38-44 cm

Gerakan kasar: tengkurap-telentang sendiri

Gerakan halus: memegang mainan

Komunikasi/Berbicara:



5 bulan

Berat badan: 5,3-7,3 kg

Panjang badan: 59,8-65,9 cm

Lingkar kepala: 39-45 cm

Gerakan halus: meraih, menggapai

Komunikasi/Berbicara: menoleh ke suara

Sosial/Kemandirian : meraih mainan



6 bulan

Berat badan: 5,8-7,8 kg

Panjang badan: 61,6-67,8 cm

Lingkar kepala: 40-46 cm

Gerakan kasar: duduk tanpa berpegangan

Sosial/Kemandirian : memasukkan biscuit ke mulut



7 bulan

Berat badan: 6,2-8,3 kg

Panjang badan: 63,2-69,5 cm

Lingkar kepala: 40,5-46,5 cm

Gerakan kasar: mengambil mainan dengan tangan kanan dan kiri

Komunikasi/Berbicara: bersuara “Ma Ma…”.



8 bulan

Berat badan: 6,6-8,8 kg

Panjang badan: 64,6-71,0 cm

Lingkar kepala: 41,5-47,5 cm

Gerakan kasar: berdiri berpegangan

Komunikasi/Berbicara: bersuara “Ma Ma…”

Sosial/Kemandirian : bersuara “Ma Ma…”



9 bulan

Berat badan: 7,0-9,2 kg

Panjang badan: 66,0-72,3 cm

Lingkar kepala: 42-48 cm

Gerakan halus: menjimpit Komunikasi/Berbicara:

Sosial/Kemandirian : melambaikan tangan



10 bulan

Berat badan: 7,3-9,5 kg

Panjang badan: 67,2-73,6 cm

Lingkar kepala: 42,5-48,5 cm

Gerakan halus: memukulkan mainan di kedua tangan

Sosial/Kemandirian : bertepuk tangan



11 bulan

Berat badan: 7,6-9,9 kg

Panjang badan: 68,5-74,9 cm

Lingkar kepala: 43-49 cm

Komunikasi/Berbicara: memanggil “mama.. papa…”

Sosial/Kemandirian : menunjuk, meminta



12 bulan,

berat badan: 7,8 – 10,2 kg,

panjang badan: 69,6 – 76,1 cm,

lingkar kepala: 43,5 – 49,5,

gerakan kasar: berdiri tanpa berpegangan

gerakan halus: memasukkan mainan ke cangkir

komunikasi/berbicara:

sosialisasi/kemandirian: bermain dengan orang lain



15 bulan

Berat badan: 8,4 – 10,9

Panjang badan: 72,9 – 79,4

Lingkar kepala: 44 - 50

Gerakan kasar: lari naik tangga

Gerakan halus: berjalan

Komunikasi/Berbicara: mencoret-coret

Sosial/Kemandirian: minum dari gelas



1,5 tahun

Berat badan: 8,9 – 11,5 kg

Panjang badan: 75,9 – 82,4 cm

Lingkar kepala: 44,5 – 50,5 cm

Gerakan kasar: lari naik tangga

Gerakan halus: menumpuk 2 mainan

Komunikasi/Berbicara: berbicara beberapa kata (mimik, pipis, ma’em)

Sosial/Kemandirian: Memakai sendok



2 tahun

Berat badan: 9,9 – 12,3

Panjang badan: 79,2 – 85,6

Lingkar kepala: 45 - 51

Gerakan kasar: menendang bola

Gerakan halus: menumpuk 4 mainan

Komunikasi/Berbicara: menunjuk gambar (bola, kucing)

Sosial/Kemandirian: melepas pakaian, memakai pakaian, menyikat gigi.



2,5 tahun

Berat badan: 10,8 – 13,5

Panjang badan: 83,7 – 90,4

Lingkar kepala: 45,5 – 52,5

Gerakan kasar: melompat

Komunikasi/Berbicara: menunjuk bagian tubuh (mata, mulut)

Sosial/Kemandirian: mencuci tangan dan megneringkan tangan



3 tahun

Berat badan: 11,7 – 14,6

Panjang badan: 87,8 – 94,9

Lingkar kepala: 46 - 53

Gerakan halus: mengambar garis tegak

Komunikasi/Berbicara: menyebutkan warna benda, menyebutkan penggunaan benda (gelas untuk minum)

Sosial/Kemandirian: menyebutkan nama teman



3,5 tahun

Berat badan: 12,5 – 15,7

Panjang badan: 91,5 – 99,1

Lingkar kepala: 46,5 – 53,5

Gerakan kasar: berdiri satu kaki

Gerakan halus: menggambar lingkaran

Sosial/Kemandirian: memakai baju kaos



4 tahun

Berat badan: 13,2 – 16,7

Panjang badan: 96,4 – 102,9

Lingkar kepala: 47 – 53,8

Gerakan halus: menggambar tanda tambah, menggambar manusia (kepala, badan, kaki)

Sosial/Kemandirian: memakai baju tanpa dibantu



4,5 tahun

Berat badan: 13,8 – 17,7

Panjang badan: 99,7- 106,6

Lingkar kepala: 47,5 – 53,8

Sosial/Kemandirian: bermain kartu, menyikat gigi tanpa dibantu



5 tahun

Berat badan: 14,5 – 18,7

Panjang badan: 102,7 – 109,9

Lingkar kepala: 47,8 - 54

Komunikasi/Berbicara: menghitung mainan

Dikutip dari: http://www.humanmedicine.net/

Selasa, Maret 04, 2008

Mengasah Kemampuan Verbal Si Kecil

Posted by LoveLy KhaLisa at 08.34 1 comments
Perkembangan verbal seorang anak, pada dasarnya bersifat individual karena tergantung pada usia dan stimulus yang diberikan orangtua. Stimulasi ini bisa melalui dukungan sosial berbahasa, seperti mengajak si kecil berbicara atau melakukan aktivitas bersama dengan melibatkan pembicaraan.

Anak-anak yang tidak pernah terlibat dalam pembicaraan atau memiliki kesempatan untuk mengekspresikan pendapatnya, ada kemungkinan ia akan mengalami kendala dalam berbicara. Berikut ini tahapan perkembangan bahasa seorang anak:

Usia 0-2 bulan:
- Menangis ketika lapar
- Mengikuti arah suara

Usia 2-6 bulan:
- Berceloteh
- Tertawa
- Berteriak riang
- Mengeluarkan suara-suara lucu

Usia 7-12 bulan:
- Mengucapkan 'ba', 'da', 'ka' dengan jelas
- Mengulang beberapa suku kata
- Mulai mengerti kata 'tidak'
- Mengikuti instruksi sederhana, seperti 'bye-bye' atau main 'ci luk baa'.

Usia 12-18 bulan:
- Mengucapkan dua atau tiga patah kata bermakna
- Menunjuk obyek-obyek yang dilihat di buku atau yang dijumpai setiap hari
- Mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengar atau diekspresikan
- Menghasilkan kurang lebih 10 kata bermakna

Usia 18-24 bulan:
- Perbendaharaan kata mencapai 30 kata
- Mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti 'mana?', 'di mana?'
- Memberikan jawaban singkat, seperti 'tidak', 'di sana', 'di situ', 'mau'
- Kata-kata yang diucapkan masih sering tidak jelas, misalnya 'balon' jadi 'aon', 'roti' jadi 'oti'
- Menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti 'punya ku'

2 - 3 tahun:
- Menguasai 200 - 300 kata
- Senang bicara sendiri (monolog)
- Kata-kata yang baru didengarnya dipelajari diam-diam
- Mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna
- Lancar dalam bercakap-cakap
- Meski pengucapannya belum sempurna, tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks
- Bisa menggunakan kata 'aku', 'saya', 'kamu' dengan baik dan benar
- Mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang

3 - 4 tahun:
- Mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah
- Mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya
- Mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan 'andaikan', 'mungkin', 'misalnya', 'kalau'
- Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi
- Menggunakan kalimat yang utuh
- Makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti 'kenapa dia Ma?', 'sedang apa dia Ma?', 'mau ke mana?'

Beberapa stimulasi yang dapat dilakukan orangtua untuk mengembangkan kemampuan verbal anak, yaitu:

1. Bicara, bicara, dan bicara.
Semakin dini orangtua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si kecil, maka anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.

2. Jalin komunikasi secara hangat.
Jalinlah komunikasi dengan dihiasi senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Sehingga anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.

3. Nyanyikan dengan melakukan pengulangan.
Sering-seringlah menyanyikan lagu yang sederhana dan lucu untuk si kecil, lakukan secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Selingi pula dengan permainan-permainan bernada dan menarik.

4. Lakukan kontak mata.
Selama menjalin komunikasi, jangan lupa melakukan kontak mata secara intensif. Lewat pandangan mata, anak dapat merasakan perhatian, kasih sayang, cinta dan pengertian. Jika sedang berbicara padanya, tataplah matanya dan jangan membelakangi.

5. Jadilah model yang baik.
Jadikan Anda sebagai model baginya, terutama pada masa mereka mulai meniru kata-kata yang didengar dan mengucapkannya kembali. Ucapkan secara perlahan kata-kata maupun kalimat Anda, jelaskan pula dengan menggunakan tindakan sehingga ia tahu hubungan antara kata yang diucapkan dengan tindakan konkritnya. Jangan lupa pula untuk menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah secara pas.

6. Terus ajak ia berlatih.
Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui gerakan mulut, lidah dan bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah, juga merupakan kemampuan yang diperlukan. Karenanya, latihlah si kecil dengan permainan maupun dengan makanan.

7. Bacakan buku yang sederhana dan menarik.
Rajin-rajinlah membacakan buku cerita yang sederhana, namun sarat dengan kisah menarik dan gambar-gambar yang disukai anak-anak. Tunjukkan obyek-obyek yang ada dalam buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukan dan bagaimana jalan ceritanya. Minta ia mengulang nama yang Anda sebutkan, jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama tersebut.

8. Kenalkan berbagai suara.
Kenalkan si kecil dengan berbagai macam suara dan bunyi, seperti suara mobil, motor, kucing atau anjing. Kenalkan pula suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dan lainnya.

9. Mulai kenalkan angka.
Kenalkan ia pada angka, misalnya dengan menghitung benda-benda yang dibuat permainan. Lakukan dengan suasana santai dan nyaman, agar si kecil tidak merasa ada tekanan untuk menguasai kemampuan itu.

10. Kenalkan pada kata sifat atau kualitas.
Saat usianya 2 tahun, kenalkan ia pada perbendaharaan kata sifat atau kualitas, seperti 'baik', 'indah', 'cantik', 'dingin', 'banyak', 'sedikit', 'asin', 'manis', 'nakal',
'jelek', dan lainnya. Caranya, saat mengucapkan, sertai juga dengan kualitasnya, seperti 'anak baik', 'anak manis', 'anak pintar', 'baju bagus', 'boneka cantik', 'anak nakal', 'roti manis' dan lainnya.

Yang perlu diingat, perkembangan anak bersifat individual. Kecepatan anak Anda, bisa jadi tidak sama dengan anak-anak lainnya karena tiap anak punya dan mengalami hambatan yang berbeda.

Jadi, jika si kecil ternyata kurang lancar dan fasih berbicara, jangan langsung menekan untuk cepat-cepat mengoptimalkan kemampuannya karena hanya akan menyebabkan si kecil stress. Yang bisa Anda lakukan, adalah memberikan rasa aman dan motivasi untuk terus mengembangkan diri.

Dikutip dari: http://halohalo.co.id/

Selasa, Februari 26, 2008

Kulit Bayi dan Alergi

Posted by LoveLy KhaLisa at 16.19 2 comments
Ungkapan, kulit mulus seperti kulit bayi mungkin saja kurang tepat. Buktinya, kebanyakan kulit bayi, terutama bayi baru lahir, justru beruntusan. Kenapa ya? Penyebabnya lumayan banyak ternyata. Apa sajakah itu, dan perlukah penanganan dari ahlinya?

JERAWATAN

Kemungkinan: acne infantil (jerawat) dengan tanda-tanda:

Kulit muka ditumbuhi benjolan kecil mirip jerawat atau bruntusan dengan warna kemerahan.

Bisa terjadi di wajah, dada, punggung, dan/atau sela paha.

Biasanya muncul dalam 30 hari pertama kehidupan, puncaknya pada minggu ke 2-4.

Penyebab:

Acne infantil yang dialami 50% bayi baru lahir ini disebabkan hormon androgen yang masih tinggi (sisa saat ia masih dalam kandungan) pada peredaran darahnya.

Solusi:

Umumnya jerawat ini akan hilang dengan sendirinya seiring lenyapnya hormon tersebut. Pada beberapa kasus, dokter akan meresepkan obat jerawat ringan, krim benzoil peroksida 2,5%, misalnya.

BINTIK KEMERAHAN PADA LIPATAN KULIT

Kemungkinan: biang keringat (miliaria) dengan gejala utama gatal-gatal disertai kulit kemerahan bergelembung kecil-kecil. Biang keringat dapat dibagi menjadi:

Miliaria crystallina (MC) dengan gejala bercak-bercak kecil (berbentuk seperti butiran) yang timbul berkelompok dan berwarna menyerupai kulit atau merah muda. MC tidak meradang dan biasanya menyerang daerah lipatan, terutama leher dan ketiak, serta daerah yang tertutup baju. Biang keringat tipe ini paling banyak menyerang bayi karena si kecil umumnya dibungkus ketat sehingga tubuhnya jadi berkeringat dan lembap.

Miliaria rubra dengan gejala bercak seperti butiran berwarna merah (papula) atau melebar (papula vesicles). Kelainan ini biasanya timbul di daerah lipatan seperti leher, lipat paha, ketiak, dahi, badan atas, sisi lengan, dan daerah yang tertutup baju.

Penyebab:

Cuaca panas sehingga bayi berkeringat padahal kelenjar keringatnya masih belum sempurna dan mudah tersumbat.

Kurang sempurna saat mengeringkan tubuh si kecil, terutama terjadi pada bayi gemuk yang leher dan ketiaknya berlipat-lipat.

Pakaian anak terlalu ketat sehingga membuatnya cepat gerah dan berkeringat.

Pencegahan:

Penyakit ini biasa kambuh berulang terutama bila udara panas. Cara mencegahnya dengan perawatan rutin, seperti:

Mandi teratur

Setiap si kecil berkeringat, cepat basuh dengan lap basah kemudian keringkan dengan handuk lantas taburi tubuhnya dengan bedak.

Bila cuaca panas, kenakan bayi baju yang tipis. Jadi ia tidak perlu selalu dibedong dengan ketat.

Air mandi jangan terlalu panas karena justru membuat bayi jadi gerah lalu berkeringat.

Pengobatan:

Hampir 70% kasus biang keringat bisa diatasi bila si kecil terhindar dari cuaca panas. Pengobatan yang disarankan biasanya dengan mengoleskan losion calamin.

KULIT MERAH DAN MENGELUPAS

Kemungkinan: eksim susu (Dermatitis atopik). Biasanya terjadi saat usia bayi 2 bulan atau setelah sistem imunitas bayi mulai terbentuk dan berlanjut hingga usia 2 tahun. Area yang terkena biasanya pipi dan lipatan kulit (daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut) dengan tanda bercak merah (yang terkadang basah seperti kulit lecet) atau bintik-bintik kemerahan yang menonjol di permukaan kulit yang berisi cairan. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman. Pada beberapa kasus ada yang kulitnya sampai mengelupas seperti akan ganti kulit. Karena rasanya gatal, bayi umumnya akan gelisah serta rewel.

Penyebab:

Yang jelas bukan ASI karena justru ASI mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi. Beberapa faktor yang dicurigai sebagai biang keladi adalah:

Faktor keturunan

Faktor luar/lingkungan, misal debu, udara panas dan kelembapan

Kebiasaan bayi, seperti merangkak sehingga tungkai dan sikunya mudah kotor dan terserang eksim

Kosmetik yang tidak tepat sehingga kulit bayi kering dan bersisik/terkelupas

Bisa juga karena proses fisiologis, walaupun tidak semua bayi mengalami

Pencegahan:

Merawat kulit bayi dengan baik dan mencegah kulitnya agar tidak kering.

Pengobatan:

Kondisi ini rentan mengalami infeksi jadi sebaiknya si kecil segera dibawa berobat ke dokter.

RUAM MERAH PADA BOKONG DAN SELANGKANGAN

Kemungkinan: eksim popok. Keluhannya adalah bintik-bintik merah timbul yang menimbulkan rasa gatal dan kadang nyeri yang ditemui di sekitar bokong dan selangkangan bayi.

Penyebab:

Ini adalah kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok. Bagian tertutup popok mudah meng- alami peradangan, karena kulit di bagian itu hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri dan senyawa yang dapat mengiritasinya.

Eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasa ada dalam feses dan urine bayi, yang bisa menimbulkan peradangan di sekitar anus. Bercak seperti ini biasanya terjadi bila bayi diare.

Akibat terjadinya iritasi yang disebabkan oleh amonia (terjadi saat bakteri yang terdapat pada urine bercampur dengan kotoran bayi).

Pencegahan:

Ganti popok sesegera mungkin setiap kali bayi BAK. Pilih kain popok yang terbuat dari bahan lembut (seperti katun). Perhatikan juga cara pemakaiannya, jangan terlalu ketat agar kulit tidak tergesek.

Penggunaan pospak sedapat mungkin dihindari.

Pengobatan:

Periksakan ke dokter bila bercaknya belum hilang dalam 10 hari sebab kemungkinan sudah ditumpangi jamur kandida. Dokter biasanya akan meresepkan krem antijamur. Jika telah diobati gejala ini biasanya akan hilang dalam waktu satu minggu.

TANDA BIRU DI BOKONG

Kemungkinan: mongolian blue spot. Biasanya warna biru/tanda biru akan tampak di bokong, lengan, atau paha, bisa juga dengan penampakan warna merah di kepala.

Penyebab:

Akumulasi pigmentasi bawah kulit. Gejala yang banyak dialami bayi Asia ini tidak menimbulkan rasa sakit juga bukan menandakan adanya gangguan pada jalannya aliran darah

Pengobatan:

Semua ini merupakan kelainan fisiologis normal yang ditemukan pada banyak bayi dan akan hilang dengan sendirinya, seiring dengan sempurnanya fungsi tubuh bayi. Jadi tidak perlu diobati.

TANDA-TANDA LAIN DI KULIT BAYI

Masih ada beberapa tanda di kulit bayi yang sering membuat orangtua waswas. Berikut di antaranya:

Kulit kepala merah dan terkelupas. Bersihkan dengan baby oil atau sikat rambut khusus bayi yang lembut. Tanyakan pada dokter kulit apakah harus mengganti sampo atau butuh salep tertentu untuk mengobatinya.

Bintik-bintik putih yang timbul di sekitar pipi atau hidung. Gejala yang disebut dengan milia ini akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu jadi tidak perlu tindakan tertentu.

Warna kulit yang tidak merata di bagian pergelangan tangan biasanya timbul karena sirkulasi darah yang belum sempurna. Hal itu bisa menyebabkan tampilan kulit di bagian tertentu berwana lebih pucat dibandingkan di daerah lainnya. Pada bagian tangan dan kaki mungkin saja timbul warna kebiruan, ini pun gejala yang normal.

Bintik merah di bagian tertentu tubuh (umumnya ditemukan di tungkai dan lengan atau daerah yang tidak tertutup pakaian). Kemungkinan besar disebabkan gigitan serangga. Untuk itu cara mencegahnya hindari bayi dari gigitan nyamuk dan lainnya. Bintik merah ini tidak perlu diobati karena akan hilang dengan sendirinya.

Benjolan merah sering timbul di daerah selangkangan dan ketiak pada bayi yang tinggal di daerah tropis. Hal ini disebabkan kelenjar keringat tidak bekerja dengan semestinya, ditambah adanya infeksi bakteri. Gejala ini sewaktu-waktu bisa datang dan pergi dengan tampilan kulit yang beragam, misalnya seperti bisul kecil dengan bintik merah di bagian tengahnya. Jika mengalami hal ini harus berobat ke dokter kulit.

Kulit yang mengelupas biasa dialami bayi Asia setelah beberapa hari dilahirkan. Gejala ini timbul terutama di daerah telapak tangan dan telapak kaki. Bayi Asia memang cenderung memiliki kulit lebih kering dibandingkan dengan bayi Eropa. Oleskan baby oil pada kulit yang mengelupas.

Jika bayi Anda menderita penyakit impetigo, infeksi yang ditimbulkan oleh bakteri di sekitar mulut, sebaiknya jauhkan dari anak lainnya. Gunakan handuk khusus dan cucilah tangan setelah menyentuh bagian yang terkena infeksi. Segera bawa ke dokter kulit.

Gazali Solahuddin.

Narasumber: dr. Dian Pratiwi, SpKK, dari erhaclinic Kemanggisan-Jaka

Minggu, Februari 24, 2008

Cara Memandikan Bayi

Posted by LoveLy KhaLisa at 03.32 1 comments
Tuangkan air dingin ke dalam bak mandi, kemudian tambahkan air panas secukupnya sampai mencapai suhu 40 derajat Celsius untuk bayi berumur sampai 2 bulan, lalu berangsur turunkan suhu sampai 27 derajat Celsius untuk bayi di atas 2 bulan. Isilah bak mandi dengan air setinggi kira-kira 7,5 cm dari dasar bak.

Untuk bayi yang baru lahir, bersihkan terlebih dahulu kedua matanya dengan kapas yang telah direndam air matang. Bersihkan mata bayi dari ujung mata ke arah hidung, Gunakan kapas yang berbeda untuk masing-masing mata.

Bersihkan pula lubang hidung si kecil secara perlahan-lahan dengan cotton buds yang telah terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air bersih. Gantilah kapas untuk masing-masing lubang hidung. Hati-hati, jangan memasukkan cotton buds terlalu dalam.

Kemudian bersihkan juga daun telinga si kecil dengan cotton buds yang telah diberi baby oil. Jangan masukkan cotton buds ke dalam lubang telinga, bersihkan bagian luar telinganya saja.

Sebelum membersihkan tubuhnya, bukalah baju bayi secara bertahap. Mula-mula bukalah baju bagian atas, baru kemudian popok atau celana bayi.

Bersihkan alat kelamin dan pantat bayi dengan kapas bulat yang sudah dibasahi air. Bersihkan setiap lipatannya.

Kemudian mulailah menyabuni rambutnya serta seluruh badan bayi, terutama lipatan-lipatan kaki, paha, tangan serta lehernya dengan menggunakan sabun bayi.

Ukur kembali suhu air dalam bak mandi. Kemudian selipkan tangan kiri Anda ke bawah tengkuk si kecil, lalu pegang erat-erat ketiaknya. Sanggahlah tengkuk si kecil dengan pergelangan tangan Ibu, lalu pegang tubuhnya dengan tangan kanan Ibu.

Angkatlah si kecil dan masukkan ke dalam bak mandi. Sementara tangan kiri Anda menyangga kepala dan memegangi ketiaknya, tubuhnya sebagian terendam dalam air. Gunakan tangan kanan Ibu untuk membersihkan sabun di telinga, leher, dan seluruh badannya. Biarkan si kecil bermain dalam air selama sekitar 2-5 menit. Bila si kecil sudah cukup besar, berikan mainan kapal-kapalan atau bebek-bebekan agar acara mandi semakin menyenangkan.

Untuk membersihkan bagian belakang tubuhnya, balikkan badan si kecil, kemudian sanggah badannya dengan tangan kiri Anda dan pegang erat-erat ketiaknya. Lalu dengan tangan kanan, bersihkanlah punggungnya.

Setelah acara mandi selesai, angkatlah tubuh si kecil dari dalam air, lalu bungkuslah tubuhnya dengan handuk. Sambil mengajaknya bercengkrama, keringkan tubuh bayi dengan cara menekan-nekankan handuk bayi ke tubuhnya.

Setelah tubuhnya kering, taburkan bedak bayi di dada, perut dan punggungnya, agar tubuhnya wangi dan segar. Perhatikan setiap lipatan dan lekukan khususnya di daerah kemaluaannya. Usapkan lipatan pada kemaluan si kecil dengan baby oil.

Terakhir, pakaikan popok dan baju bayi, lalu sisirlah rambutnya dengan sisir khusus untuk rambut bayi. Bila cuaca mengijinkan, ajakan si kecil jalan-jalan atau berjemur di bawah sinar matahari pagi.

Dikutip dari: Booklet Milna

Kamis, Februari 21, 2008

Agar Mata Si Kecil Tetap Berbinar

Posted by LoveLy KhaLisa at 04.05 0 comments
Mata bayi Anda kelihatan kotor dan “redup”? Tak usah khawatir dulu. Asal tahu caranya, mata mungilnya bisa “bersinar” lagi!

Mata adalah jendela untuk melihat dunia. Jadi sudah sepatutnya Anda tidak mengabaikan kondisi mata si kecil. Tentu saja ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

Cari penyebabnya

Penyebab “redupnya” mata bayi bisa beragam (silakan lihat boks “Ini Dia Penyebabnya!”). Untuk memastikannya, berkonsultasilah dengan dokter anak Anda. Dengan demikian, tindakan yang dilakukan benar-benar tepat.

Siap-siap dulu sebelumnya

- Tangan Anda harus bersih. Ini untuk menjaga kuman-kuman yang “nakal” ikut-ikutan masuk ke mata mungilnya.

- Gunakan kapas bulat yang lembut, sebab “serpihan” kapas tidak akan menempel di mata dan menimbulkan iritasi.

- Celup kapas bulat dalam air hangat, agar tidak tidak terjadi iritasi.

- Saat membersihkan mata

- Rajin-rajinlah membersihkan matanya, minimal berbarengan saat Anda membersihkan tubuhnya di pagi dan sore hari.

- Ganti kapas setiap kali membersihkan mata bayi, agar kotoran mata yang sudah terambil tidak mengenai matanya lagi. Tindakan ini juga mencegah kontaminasi kuman dari satu mata ke mata lainnya.

Ini Dia Penyebabnya!

- Sebelum berusia 48 jam. Biasanya akibat kontaminasi cairan ketuban atau darah seusai persalinan. Kotoran matanya akan berwarna kecokelatan, tapi tidak berbau.

- Setelah usianya 48 jam. Ini karena infeksi. Umumnya, kotoran mata akan berwarna kuning kehijauan dan berbau. Infeksi bisa juga ditandai radang pada mata, berupa bengkak dan berwarna kemerahan.

- Sumbatan pada saluran air mata . Terjadi karena ada sumbatan di saluran air mata, sehingga air mata menggenang dan debu yang beterbangan di udara lengket di mata.

Nia L. Tobing

Dikutip dari: www.ayahbunda-online.com

Selasa, Februari 19, 2008

Agar Bayi Aktif Bergerak

Posted by LoveLy KhaLisa at 23.20 3 comments
Bayi Anda lebih suka nonton teve dan didongengi daripada beraktivitas aktif atau berinteraksi? Segera ubah pola asuh Anda.

Di usia 0-12 bulan, bayi memang belum bisa melakukan banyak hal seperti anak batita. Namun ia sudah memiliki naluri lahiriah untuk selalu aktif, entah bergerak, bersuara, dan memandang. Jadi patut dipertanyakan jika si kecil sampai tak memiliki hasrat untuk berkegiatan aktif atau lebih banyak diam tak mengeluarkan suara, jarang bergerak, pandangannya tidak antusias, dan malas diajak bermain yang menuntut keaktifan panca indra dan anggota tubuh.

Menurut Erfianne Cicilia, Psi., dengan bayi aktif bergerak, bersuara, memandang, dan merespons setiap stimulus yang datang atau diberikan, menandakan panca indranya baik, otaknya aktif, ciri sedang belajar dan ingin mengembangkan kemampuannya. Malah aktifnya si kecil, tambah psikolog dari LPT UI yang akrab disapa Fifi ini, "Sebenarnya merupakan ciri bahwa bayi mau dan ingin menerima hal-hal baru untuk dipelajari dan digunakan demi kepentingan dan kebaikannya."

Karena itu, sungguh disayangkan jika bayi hanya menerima masukan dari satu sisi saja. Sementara tugas perkembangan bayi itu banyak sekali, yang tentunya tak akan cukup distimulasi dan dikembangkan jika aktivitasnya hanya mendengar dan menonton saja. Jikapun kecerdasannya tampak bagus, ya sebatas bidang itu saja. Bagaimana dengan kecerdasan yang lain, seperti sosialisasi dan motorik, mampukah dikembangkan oleh si bayi dengan baik?

Jelas, orang tua harus mempertanyakan jika bayinya jarang menangis, tak kunjung bersuara, kurang menggerakkan anggota badan, atau tenang saja meski telat diberi ASI atau makanan pendamping ASI, karena pasti ada apa-apa pada diri si kecil. Untuk itu, sarannya, "Orang tua harus banyak belajar supaya mengetahui perkembangan dan kondisi anak yang seharusnya. Sehingga saat bayinya tidak menunjukkan sesuatu yang semestinya terjadi, orang tua bisa lekas tanggap untuk mengatasi dan memeriksakan ke ahlinya."

PENYEBAB BAYI MENJADI PASIF

Ada banyak penyebab bayi lebih senang kegiatan pasif, tetapi yang paling umum dan sering ditemukan, menurut Fifi, adalah karena:

1. Fisik si bayi tak memungkinkan dirinya untuk aktif alias kegemukan. Jadi dia cukup kerepotan dan kecapekkan untuk menggerakan anggota tubuhnya.

2. Si bayi memiliki gangguan neurologi atau kelainan fungsi saraf. Bisa juga ada kelainan pada panca indra atau anggota tubuh lainnya. Tentu hal ini harus diperiksakan ke dokter dan hanya dokter yang bisa memutuskan ada apa pada diri si bayi.

3. Orang tua memiliki keyakinan bahwa bayi yang anteng adalah anak yang penurut dan baik. Karena itu orang tua mengondisikan bayinya untuk selalu anteng dengan memberikan stimulasi yang membuat si kecil pasif, seperti menonton teve.

4. Orang tua sudah cukup puas dengan bayinya yang dianggapnya baik dan pintar karena diam saja, lebih banyak melihat dan mendengar. Karena menurutnya, bayi yang rewel itu nyusahin. Padahal, bayi anteng itu bisa karena dia tidak menerima stimulus apa-apa, atau ada apa-apa pada anggota tubuh juga panca indranya.

5. Orang tua tidak ekspresif. Sekalipun berinteraksi, tetapi ekspresinya datar sehingga si anak tak terpancing untuk memberikan respons. Reaksinya pasti jauh berbeda bila kita menyapanya dengan ekspresi muka dan gerak tubuh yang ekspresif. Si kecil jadi lebih ceria, tertantang, dan aktif bergerak jika stimulusnya ekspresif.

6. Orang tua mengajak bayi berinteraksi secara pasif. Misalnya, menggendong bayi sambil ngobrol dengan orang lain atau malah nonton teve.

7 EFEK YANG HARUS DIWASPADAI

Anak-anak yang lebih senang berkegiatan pasif besar kemungkinan tak mencapai tahap-tahap perkembangan yang seharusnya ia tapaki. Kecuali jika orang tua cepat tanggap dan lekas memperbaiki diri. Kalau tidak, ujar Fifi, anak kurang mendapat pengalaman dan kesempatan emas yang mungkin akan sangat baik untuknya di kemudian hari.

Selain itu, tambahnya, ada hal-hal tertentu yang bisa kita lihat langsung, yang merupakan efek jika si kecil lebih pasif dari anak normal pada umumnya:

1. Motorik bayi tidak terstimulasi dengan baik. Bisa jadi perkembangan dan kemampuan motoriknya akan lebih jelek dari bayi normal lainya.

2. Karena kepasifannya itu, tentu si bayi tidak terstimulasi dengan baik dan lengkap untuk urusan sosialisi, kepekaan sosial, dan interaksi sosial. Kelak di usia berikutnya ia mungkin akan mengalami kesulitan dalam berteman, bergaul, sharing, mengerti orang lain, dan saling membantu.

3. Tak menutup kemungkinan ia tumbuh menjadi anak yang hanya mau enaknya saja alias selalu minta "disuapi". Mengapa? Karena ia selalu saja dikondisikan untuk menjadi penerima pasif.

4. Karena selalu anteng, seumpama pipis diam saja, lapar asyik saja, haus tak pernah protes, dan lainnya, maka kemungkinannya si kecil tak bisa mengenali diri sendiri, tidak tajam sensitivitasnya, dan kurang baik emosinya.

5. Bisa juga ia menjadi takut mencoba segala sesuatu yang baru.

6. Efek lainya yang mungkin saja terjadi adalah kekurangan gizi.

7. Lebih buruk lagi, ia punya suatu masalah neurologis. Empat masalah terakhir ini mesti ditangani oleh ahlinya jika sampai terjadi.

Memang, diakui Fifi, ketujuh efek tadi belum tentu terbawa si bayi hingga besar. Walau bagaimana pun, di usia 1-3 tahun nanti ia akan memasuki lingkungan yang lebih luas jika dimasukkan ke sebuah kelompok bermain, lalu di usia 3-5 tahun masuk TK, dan di usia 6-12 tahun masuk SD. "Jadi, perubahan-perubahan mungkin saja terjadi seiring bertambahnya usia dan pengalaman si anak."

Hanya saja, biasanya kecerdasan anak yang di masa bayinya pasif tidak akan setingkat dengan anak-anak yang banyak mendapat stimulasi aktif di masa bayinya. Maksudnya, anak-anak seperti ini tentu memiliki PR yang berat dan sulit untuk bisa mengejar ketertinggalanya. Ibarat, orang lain sudah ke bulan, dia baru belajar bikin pesawatnya dan menjadi astronot. Saat dia baru bisa sampai di bulan, orang lain malah sudah sampai planet Mars. Begitulah kondisi si kecil.

BERIKAN STIMULASI AKTIF

Nah, agar terhindar dari efek negatifnya, mulai detik ini juga imbangi aktivitas pasif si bayi. Caranya? Simak saran Fifi berikut ini!

    Langkah pertama yang harus orang tua lakukan adalah mengubah kebiasaan diri sendiri atau si pengasuh yang tidak ekspresif dan ogah-ogahan dalam menghadapi anak. Mengapa? Karena, program apa pun yang akan diberikan, jika interaksi dengan anak tidak ekspresif dan ogah-ogahan, maka sama juga bohong.

    Ingatlah, tak ada kata terlambat dalam menstimulasi anak. Sekalipun hal ini baru orang tua sadari setelah si bayi berusia 5 bulan, misal. Orang tua tetap bisa memberikan stimulasi aktif untuk memperbaikinya.

    Ketahui lebih dulu, apa saja tugas-tugas perkembangan anak di usia 0-12 bulan. Kemudian, mulailah memberikan stimulasi dari kekurangan anak pada saat itu, tanpa melihat tugas perkembangan yang seharusnya dicapai anak pada saat itu. Contoh, sekarang si kecil berusia 10 bulan. Karena dia lebih suka kegiatan pasif, maka dia belum bisa mencapai tahapan berdiri sambil berpegangan dan menjimpit. Nah, saat itu kita jangan dulu memberikan stimulasi sesuai dengan usianya, tapi berikanlah stimulasi dari ketertinggalanya terlebih dahulu. Misalnya mengajari bayi berjalan dengan ditatih dan memberinya butiran makanan yang kecil dan aman supaya motorik halusnya terlatih dengan baik.

    Jangan hilangkan optimisme dalam hati orang tua. Yakinlah, anakku pasti bisa. Tinggal bagaimana saya dan si pengasuh bisa membingbing dan mengarahkanya.

    Orang tua jangan terlalu cemas menghadapi masalah ini, apalagi sampai membanding-bandingkan bayi sendiri dengan bayi lain. Tak ada gunanya mendorong terlalu keras, karena anak akan menolak. Apalagi setiap anak itu unik! Bila kita rajin memberikan stimulasi walau agak terlambat, kelak dia bisa kok mencapai tahapan-tahapan perkembangan dengan baik.

    Untuk lebih pasti seperti apa cara menstimulasi anak yang mengalami problema ini, disarankan agar orang tua berkonsultasi pada dokter dan psikolog. Bisa jadi, cara menstimuasi anak A dengan anak B belum tentu sama, sekalipun kasusnya sama.

    Lakukan selalu stimulasi pada si kecil dengan sungguh-sungguh dan ekspresif. "Halo, Sayang... ada apa panggil-panggil Ayah? Oh, mau belajar jalan ya! Yuk, belajar jalannya di halaman. Satu... dua... tiga... horeee bisa! Yuk, kita coba lagi sampai bisa. Kalau sudah capek bilang ya, nanti kita istirahat dulu," misalnya.


Dikutip dari: www.tabloid-nakita.com

WASPADAI PENYAKIT PNEUMOKOKUS!

Posted by LoveLy KhaLisa at 23.08 0 comments
Hingga saat ini, menurut data WHO, ada 1 juta balita meninggal setiap tahun akibat penyakit yang disebut Invasive Pneumoccoccal Disease (IPD). Penyakit ini cukup berbahaya dan tidak jarang menyebabkan kematian pada anak balita. Menurut dr. Sukman Tulus Putra, Sp.A.(K), FACC, FESC, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), orangtua hendaknya tetap waspada terhadap bahaya serangan penyakit IPD karena dapat mengancam nyawa, terutama pada anak di bawah usia 2 tahun.

MENYEBAR DI UDARA

Saat ini, dari sekitar 25 juta balita di Indonesia, sebagian besar berpotensi terkena serangan IPD. Oleh karena itu IDAI merasa perlu mensosialisasikan bahaya penyakit IPD kepada seluruh masyarakat meski kenyataannya kita masih bergelut dengan berbagai penyakit Infeksi lain seperti demam berdarah dengue dan polio.

IPD adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus (streptoccoccus pneumoniae). Bakteri tersebut secara cepat dapat masuk ke dalam sirkulasi darah dan merusak (invasif) serta dapat menyebabkan infeksi selaput otak (meningitis) yang biasa disebut radang otak.

Penelitian menunjukkan, sebagian besar bayi dan anak di bawah usia 2 tahun pernah menjadi pembawa (carrier) bakteri pneumokokus di dalam saluran pernapasan mereka. Oleh karena itu, bayi baru lahir hingga bocah usia 2 tahun berisiko tinggi terkena IPD.

Bakteri ini menyebar di udara (airborne disease) melalui cairan/lendir hidung dan tenggorokan saat seseorang bersin dan batuk. Saat bersin atau batuk, jutaan partikel air liur yang sangat kecil terlontar dengan kecepatan 100 meter per detik. Partikel tersebut umumnya berdiameter sekitar 10-100 mikrometer. Partikel ini akan segera berubah menjadi partikel yang lebih kecil lagi (droplet nuclei) berukuran 1-4 mikrometer dan berisi virus atau bakteri. Inilah yang menjadi sarana penularan yang sangat cepat. Itulah sebabnya interaksi antara anak dan manula yang mengidap penyakit ini terus menerus, serta antarbayi dan anak di tempat-tempat umum, kendaraan umum, likungan tetangga, tempat penitipan anak (TPA) dan kelompok bermain (playgroup), merupakan lokasi potensial bagi penyebaran bakteri IPD ini.

SAKIT TELINGA SAMPAI AJAL MENJEMPUT

Infeksi pneumokokus merupakan infeksi bakteri yang menyerang berbagai bagian tubuh.

* Jika bakteri pneumokokus masuk ke dalam aliran darah, dikenal sebagai pneumokokus bakteremia.

* Jika bagian otak tertentu yang terserang, dikenal sebagai meningitis (radang/infeksi selaput otak).

* Jika bakteri pneumokokus menyerang paru-paru, dikenal sebagai pneumonia atau radang/infeksi paru.

* Jika telinga yang terinfeksi, dikenal sebagai otitis media akut.

Apabila terjadi bakteremia, akan muncul gangguan berbagai organ tubuh (disebut sepsis) yang akhirnya berujung pada kegagalan fungsi organ (multiorgan failure). Selain itu, pneumokokus juga bisa menyebabkan penyakit lokal yang bersifat non-invasif, seperti infeksi telinga tengah, radang paru dan sinusitis.

Yang paling fatal bila bakteri pneumokokus menyerang otak. Pada kasus-kasus meningitis seperti ini, kematian akan menyerang 17% penderita hanya dalam kurun waktu 48 jam setelah terserang. Kalaupun dinyatakan sembuh umumnya meninggalkan kecacatan permanen, semisal gangguan pendengaran dan gangguan saraf yang selanjutnya memunculkan gangguan motorik, kejang tanpa demam, keterbelakangan mental dan kelumpuhan.
Di Indonesia, saat ini pneumokokus menjadi salah satu dari dua penyebab utama meningitis bakteri anak-anak. Meskipun penyakit pneumokokus memuncak pada anak usia 12 bulan, kasus meningitis mungkin mulai terjadi dari usia 2 bulan.

CEGAH DENGAN IMUNISASI

Infeksi yang disebabkan pneumokokus adalah penyebab angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi pada anak-anak di seluruh dunia. Berdasarkan data epidemologis, infeksi pneumokokal menyebabkan lebih dari 1 juta kematian anak-anak terutama di negara berkembang.

Pada dasarnya IPD dapat diobati dengan antiobiotik. Akan tetapi pengobatan IPD jadi semakin sulit dengan meningkatnya resistensi bakteri pneumokokus terhadap beberapa jenis antiobiotik, misalnya penisilin. Lagi pula penggunaan antibiotik untuk infeksi telinga dapat mengurangi efektivitas antibiotik itu sendiri selain meningkatkan jumlah carrier terhadap organisma yang resisten di dalam saluran pernapasan.

Itulah sebabnya, pencegahan lebih diperlukan daripada pengobatan. Vaksinasi dipercaya sebagai langkah protektif terbaik mengingat saat ini resistensi kuman pneumokokus terhadap antibiotik semakin meningkat. Karena anak-anak di bawah usia 1 tahun memiliki risiko paling tinggi menderita IPD, maka amat dianjurkan agar pemberian imunisasi dilakukan sedini mungkin. Untungnya, saat ini sudah ditemukan vaksin pneumokokus bagi bayi dan anak di bawah 2 tahun.

Cara bekerjanya, merangsang sistem kekebalan dan menciptakan memori pada sistem kekebalan tubuh. Injeksi vaksin pneumokokus ke dalam tubuh memberikan pengenalan sistem kekebalan tubuh pada 7 jenis/serotipe bakteri pneumokokus yang paling umum menyerang bayi dan anak. Dengan pemberian vaksin, serangan bakteri ini di kemudian hari dapat dicegah. Studi klinis tahun 2003 menunjukkan pengurangan jumlah bayi penderita IPD sebanyak 78% setelah anak divaksinasi saat berusia di bawah 2 tahun. Bahkan FDA (Food and Drug Administration) di AS menyutujui vaksin pneumokokus sebagai satu-satunya vaksin untuk mencegah IPD pada bayi dan anak sekaligus merekomendasikan bayi dan anak di bawah usia 2 tahun untuk mendapat vaksin pneumokokus. Tak heran kalau vaksin ini diwajibkan di Amerika Serikat, Australia dan Eropa, sedangkan di Indonesia baru mulai diperkenalkan pada tahun 2006 ini.

Reaksi terhadap vaksin yang terbanyak dilaporkan adalah demam ringan < 380 Celcius, rewel, mengantuk (drowsy), dan beberapa reaksi ringan lainnya yang biasa ditemui pada pemberian berbagai jenis vaksin. Orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak mengenai jadwal pemberian vaksin pneumokokus baru untuk bayi dan anak di bawah 2 tahun sesuai kondisi kesehatan dan usia anak. Demi mencegah bahaya penyakit ini, setiap anak di bawah usia 2 tahun memang seyogyanya dapat divaksin.

GEJALANYA MIRIP DEMAM

Gejala IPD yang umum diantaranya napas cepat sesak, nyeri dada, menggigil disertai batuk dan demam dengan masa inkubasinya 1-3 hari. Namun gejala yang lebih spesifik bisa ditemui tergantung pada bagian tubuh mana yang diserang.

Otitis media yang berakibat infeksi pada telinga tengah, contohnya, juga memunculkan gejala lain seperti nyeri telinga, demam, rewel, dan gangguan pendengaran yang bersifat sementara. Infeksi telinga tengah cenderung terjadi berulang pada masa bayi dan kanak-kanak. Kalau sudah begini sangat mungkin si anak akan mengalami gangguan pendengaran yang bersifat menetap dan mengalami keterlambatan bicara.

Sayangnya, gejala bakteremia pada bayi kadang sulit diketahui karena awalnya serupa dengan infeksi virus biasa seperti bayi menderita demam tinggi dan terus-menerus rewel, diikuti atau tanpa infeksi saluran pernapasan. Sementara meningitis menunjukkan gejala seperti demam tinggi, nyeri kepala hebat, mual, muntah, diare, leher kaku, dan takut pada cahaya (photophobia). Selain itu bayi juga tampak rewel, lemah dan lesu (letargik), menolak makan dan pada pemeriksaan teraba ubun-ubunnya menonjol, dapat terjadi penurunan kesadaran dan kejang.

Dari ketiga bakteri yang biasa menyebabkan meningitis (Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae type B, dan Neisseria meningitis), Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri yang seringkali menyerang anak di bawah 2 tahun. Meningitis karena bakteri pneumokokus ini dapat menyebabkan kematian hanya dalam waktu 48 jam. Bila sembuh pun sering kali meninggalkan kecacatan permanen.

Dikutip dari: www.tabloid-nakita.com

Senin, Februari 18, 2008

Ekspresi Pertamaku

Posted by LoveLy KhaLisa at 04.24 0 comments
Manusia makhluk sosial. Pada bayi, hal ini terlihat jelas lewat ekspresinya.

Bayi mengenal lingkungan lewat kepekaan indra. Penelitian membuktikan, bayi lebih suka mendengar suara manusia, terutama suara ibunya yang sudah dikenal sejak dalam kandungan, dibanding suara-suara lain. Karenanya, orangtua amat dianjurkan untuk sering berbicara kepada bayi. Salah satunya agar kemampuan bersosialisasinya berkembang optimal.

Berikut tahapan kemampuan sosial bayi dari bulan ke bulan dan bagaimana cara menstimulasinya.

* Terkejut dan Menangis
Terkejut dan menangis sebagai reaksi terhadap bunyi keras dan sinar terang dapat ditunjukkan oleh bayi sejak baru lahir. Di usia 1 bulan, ia mulai dapat mengarahkan pandangan pada sumber bunyi dan bahkan mulai menatapnya. Namun, pertama kali mungkin bayi hanya terdiam. Selanjutnya di usia 2 bulan, jika ada bunyi lonceng di dekatnya, ia tidak lagi menunjukkan reaksi mengejapkan mata atau gerakan kaget tetapi menunjukkan sikap mendengarkan.

* Tersenyum
Bayi biasanya mulai tersenyum di usia 2 bulan sebagai jawaban atas kasih sayang terhadapnya. Namun senyum sosial yang merupakan interaksinya dengan manusia lain biasanya baru muncul di usia 3 bulan. Orang lain yang masih asing pun akan diajaknya tersenyum di usia ini. Uniknya, ia tidak mengajak tersenyum benda mati atau sosok yang tidak menyerupai manusia. Menstimulasinya bisa dilakukan dengan sering-sering mengajaknya bicara dan tersenyum.

* Tertawa
Di usia 4 bulan, kemampuan tertawanya muncul. Biasanya kemampuan ini diiringi dengan pekikan untuk menunjukkan kesenangan yang luar biasa saat diajak bermain. Stimulasi yang bisa kita berikan, tertawalah dengan ringan, halus, dan tulus yang dapat membuat bayi gembira sehingga dia akan ikut tertawa.

* Senang bersama
Coba sesekali amati, tak jarang si kecil menangis saat ditinggal sendirian bukan? Ini pertanda bahwa bayi pun sebetulnya lebih senang bersama orang lain. Reaksi sosial ini umumnya akan muncul di usia 3 bulanan. Jadi, amat dianjurkan untuk sering-sering mengajak bayi berkomunikasi dan bermain. Interaksi semacam ini akan sangat membantu mengasah kemampuan sosialnya dalam bentuk ekspresi senyum, tendangan/jejakan kaki, lambaian tangan, dan lainnya. Stimulasi yang dapat diberikan di antaranya memberi perhatian lewat belaian, dekapan, dan tatapan mata penuh kasih sayang yang bisa dilakukan saat memberi ASI, memandikan, dan bermain bersama.

* Berteman
Meski menolak orang asing, bayi bisa-bisanya mulai mengagumi bayi lain dan akan mencoba untuk menyentuhnya. Permainan bersama akan sangat menyenangkannya. Responsnya bisa bermacam-macam, seperti saling menatap, "bercakap-cakap" melambaikan tangan, bertepuk tangan, maupun memberi perintah dengan menunjuk sesuatu. Selain itu, bayi usia 6-7 bulan pun biasanya juga mulai mencoba meremas pakaian dan rambut anak lain, atau bahkan mungkin menjambaknya. Boleh jadi tindakan ini dilakukannya untuk mengungkapkan kegemasannya. Ia juga mencoba meniru kata-kata, isyarat, dan gerakan-gerakan sederhana yang dilakukan orang lain. Stimulasilah si kecil dengan melibatkannya dalam lingkungan yang lebih luas. Misalnya, berkunjung ke tetangga sebelah yang punya bayi seusianya. Latihan semacam ini akan mengasah kemampuannya bersosialisasi.

* Menarik perhatian

Bayi usia 4-5 bulan sudah sering mencoba menarik perhatian, terutama terhadap sesama bayi atau anak lain. Biasanya dia akan melambungkan badan ke atas atau ke bawah, menendang, tertawa, atau memainkan lidah dan ludahnya. Kita bisa menstimulasinya dengan sering mengajaknya bermain bersama-sama anak lainnnya.

- Minta digendong
Di usia 4-5 bulan kemampuan sosialnya semakin meningkat dengan munculnya aneka bentuk interaksi yang lebih luas. Contohnya, bayi akan minta digendong. Bukan hanya pada orangtua atau orang-orang terdekatnya, tapi juga orang-orang yang mencoba mendekatinya. Jangan ditolak, sebab bayi sedang mengembangkan rasa percayanya terhadap lingkungan. Dengan begitu ia tahu kita selalu berusaha memenuhi kebutuhannya sekaligus siap memberinya kenyamanan. Ini amat baik untuk kestabilan emosinya. Yang pasti, lakukan dengan tulus karena bayi bisa menangkap ketulusan hati kita.

* Mengenali suara orang terdekat
Masih di usia 4-5 bulan, bayi sudah dapat mengenali suara orang terdekatnya seperti ibu, ayah, maupun pengasuhnya. Semakin banyak respons yang diberikan berarti semakin giat otaknya bekerja. Ketika dia sudah mengenali suara-suara orang terdekat, cobalah untuk sering menyapanya dengan kalimat-kalimat sederhana. Contohnya, "Halo Sayang, sudah bangun ya?"

* Menunjukkan reaksi berbeda
Cobalah pura-pura marah di depan bayi usia 4-5 bulan. Dia akan menunjukkan reaksi yang berbeda dengan saat kita tersenyum atau berkata riang kepadanya. Ini bisa terjadi karena bayi usia 4-5 bulan mulai mampu "membaca" apakah kita sedang senang, kesal, atau marah. Berbagai intonasi yang menunjukkan kita suka atau tidak suka pada suatu perilaku ada baiknya dikenalkan agar bayi mengenal macam-macam emosi. Tentu saja bukan berarti Anda bebas melampiaskan kekesalan di hadapan si kecil, karena itu akan membuatnya merasa tidak nyaman.

* Malu atau takut pada orang asing
Bayi usia 6-7 bulan sudah bisa menunjukkan rasa malu. Misal, ketika orang yang dianggapnya asing ingin menggendongnya, bayi umumnya akan "mengerut" lantaran malu. Sikap ini sangat wajar, tetapi orangtua perlu memberi penjelasan bahwa si orang asing ingin berkenalan dengannya dan ia tak perlu bersikap malu. Memang, bayi tidak akan langsung mengubah sikapnya, tapi setidaknya orangtua sudah menjelaskan apa yang perlu dia lakukan.

* Meniru perilaku bayi lain

Meniru perilaku bayi lain umumnya dilakukan bayi usia 9-13 bulan. Contohnya, ketika ada bayi lain menangis, si kecil akan ikut-ikutan menangis meski tak ada alasan/penyebabnya. Begitu juga bila bayi lain menjerit, si kecil akan ikut menjerit tak kalah nyaring. Stimulasi yang dapat diberikan, cobalah sering-sering mengajak bayi bermain dengan teman sebayanya. Lewat bermain bersama dia akan belajar bersosialisasi yang amat penting bagi pertumbuhan emosinya.

* Ekspresikan perasaan
Jangan salah, bayi ternyata sudah dapat mengungkapkan perasaannya di usia 12 bulan. Tak heran bila dia akan spontan melambaikan tangan dan mengucapkan "da-da" ketika kita pergi. Bayi juga bisa teriak gembira/menjerit kegirangan saat kita mencium atau memeluknya. Sebaliknya, ia juga dapat mengekspresikan kemarahannya dengan melempar benda yang ada di tangannya saat kita melarang.

Melatihnya, stimulasilah dia dengan memanfaatkan berbagai situasi dan kondisi guna memancingnya agar bisa mengekspresikan gejolak emosinya. Misalnya, lambaikan tangan saat akan berangkat kerja, pekikkan kata "hore" kala kita sedemikian gembira, atau tunjukkan kekesalan yang wajar begitu kita melihatnya menyentuh benda-benda berbahaya.

Dikutip dari: www.tabloid-nakita.com

Sabtu, Februari 16, 2008

Meninabobokkan Bayi

Posted by LoveLy KhaLisa at 04.39 0 comments

Salah satu yang terberat bagi orangtua dengan anak pertama adalah mendengar tangis bayi yang tidak mau tidur, terutama pada pukul 3 pagi dan Anda sendiri pun kurang tidur. Ada banyak alasan kenapa bayi tidak mau tidur dan terserah kepada orangtua untuk menduganya. Berikut ini beberapa nasihat Tresillian Family Care Centre. Badan ini memberi penyuluhan bagi orangtua, termasuk kursus kelompok yang mengajar orangtua dan kakek nenek untuk meninabobokkan bayi.

Kalau bayi tetap menangis sesudah dibaringkan agar tidur bagaimana?
Ingatlah, bayi takkan menutup mata dengan sendirinya dan terlena tidur setelah ditaruh di dalam palungannya, ada yang sampai 30 menit baru tidur. Sebaiknya ditaruh ke ranjangnya waktu masih terjaga - bayi yang tertidur dalam dekapan orangtuanya selama disusui lalu terbangun dalam palungan bingung dia berada dimana dan tidak bisa kembali tidur. Alasan jelas kenapa bayi rewel diantaranya adalah popok basah, lapar atau mengandung angin. Kemungkinan lain mencakup kehausan - cuaca panas, pakaian tebal atau bahkan menangis pun menjadikan bayi haus, jadi sedikit air didih yang telah mendingin bisa membantu. Banyak bayi tidur enak jika dibedung - yang menjadikannya merasa aman. Bedunglah dengan kain katun tipis ketimbang selendang berbulu bila hawanya panas. Guna mengurangi bahaya Kematian Bayi Mendadak, senantiasa tidurkanlah telentang dan jangan sampai kepalanya tertutup selimut atau seprei.

Membantu bayi terlena tidur.
Coba digoyang-goyang, dimainkan musik lembut, atau diberi pijatan atau mandi santai. memijat dapat dilakukan di dalam kamar tenang hangat dengan minyak hangat. Minyak zaitun, kenari atau aprikot lebih baik daripada minyak bayi. Mandi santai termasuk menelungkupkan di air hangat yang suhunya dicoba dulu, berhati-hati menopang kepalanya dengan tangan agar ada di luar air beberapa menit dan diajak berbicara pelan. Jangan ditinggalkan sendiri di dalam air. Bisa juga diajak berjalan-jalan naik kereta atau mobil jika Anda tidak terlalu capai.

Kalau tiada suatu pun yang bisa membantu?
Tangis bayi adalah satu-satunya cara bertukar, jika kewalahan dan marah, hindarilah kebisingan dan Taruhlah bayinya di tempat aman. Hal terakhir adalah minta bantuan orang terdekat yang terpercaya di sekitar Anda untuk membantu menidurkan bayi Anda.


Dikutip dari: www.health.nsw.gov.au
 

LoveLy KhaLisa Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez